Saturday, January 19, 2013

Belajar dari Supir Taxi

Sudah beberapa hari ini kondisi cuaca di Jakarta setiap pagi selalu hujan. Setiap berangkat kekantor, saya selalu mengendarai Si Biru, motor kesayanganku satu satunya.  Tapi hari ini Si Biru lagi ngambek, mungkin karena kemarin dipaksa menerjang banjir yang mengepung Jakarta.... (lebay abissss, ya).

Terpaksa hari ini saya harus kekantor menggunakan kendaraan umum, sudah 30 menit menunggu belum juga ada kendaraan umum yang lewat, jam sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi. Mau tak mau saya harus mencari alat transportasi lain agar tidak terlambat sampai dikantor. Akhirnya saya menggunakan jasa Taxi untuk bisa sampai kekantor (sekali kali bolehlah naik Taxi.... enggak akan bikin isi dompet jebol tohhh).

Begitu saya naik taxi, sang supir menyapa dengan kata kata yang ramah dan bahasa tubuh yang mengesankan, "Mau kemana Pak?". "Antar saya ke Cempaka ya Pak." Jawabku. Dalam perjalanan, sang supir yang bernama Pak Saimun, mengajak ngobrol. Saya jadi "jatuh cinta" dibuatnya, pola fikir dan tutur kalimatnya begitu mempesona. Kemudian saya bertanya, "Bapak tinggal dimana?" Dia menjawab "Balaraja, Tangerang, pak." "Berapa jam perjalanan ke pool, pak?" Tanyaku kembali. Dia pun menjawab "Hampir 4 jam pak."  "Wow, 4 jam? kalo gitu, pulang pergi 8 jam dong, pak? selesai tugas, bapak nginep di pool ?" Dia segera menjawab, "Saya gak nginep di pool pak, langsung pulang kerumah karena harus jaga ibu saya."

"Menjaga ibu?"batinku bergumam. Bagaimana bisa menjaga ibunya kalo sampai dirumah jam 23.30 dan harus berangkat kerja lagi jam 3.30 pagi?

Untuk mengurangi penasaranku, aku bertanya kembali, "Bukannya kalo sampai rumah, ibunya sudah tidur dan kalo bapak berangkat lagi ibunya bapak belum bangun?

Dengan agak terbata dia menjawab, "Setiap pulang ibu saya memang sudah tidur, tapi melihatnya tertidur pulas membuat hati saya tenang.  Alasan yang membuat saya ingin pulang setiap hari adalah karena saya hanya ingin mencium tangan ibu saya setiap pagi sebelum kerja, sambil mendoakan semoga saya bisa membahagiakan ibu." Jawabnya menusuk hati ini.

Saya terdiam sejenak........ Supir taxi ini rela menghabiskan 8 jam perjalanan setiap hari hanya untuk alasan yang sangat sederhana, mencium tangan ibunya setiap mau berangkat kerja dan mendoakan agar bisa membahagiakan ibunya. Tak terasa dalam diam ini, air mataku menetes, segera ku alihkan pandangan keluar untuk menghapus air mata ini.

Kemudian aku bertanya lagi, " Bapak udah melakukan apa aja biar ibunya bahagia? Dia menjawab dengan lembut, "Saya sudah mendaftarkan umroh di kantor, pak."

"Maksud bapak gimana? Ia menjawab, "Kalau saya berprestasi dan tidak mangkir kerja, saya punya peluang mendapat umroh gratis dari kantor dan kalau menang, hadiahnya buat ibu saya tercinta, pak."

Setiap hari saya pulang untuk cium tangan ibu saya saat mau berangkat kerja dan mendoakannya agar bisa umroh. Saya benar benar ingin membahagiakan ibu saya. Mendengar jawabannya, haru dan malu bercampur satu. Air matapun mengalir deras di pipi ini. aku malu karena pengorbananku untuk ibuku kalah jauh dengan supir taxi ini.............

Hari ini aku belajar dari si supir taxi. bukan belajar dari kata katanya... tapi aku belajar melalui tindakannya untuk bisa membahagiakan ibu tercinta..

terimakasih, pak supir taxi.

No comments: